lalu menepi memunguti ceceran perasaan
membelakangi denyut yang berdegup
di dadamu yang biru dan pelukmu paling syahdu
mengusung segala kalimat untuk mentakwilkan harapan
yang tersesat di antara gulungan kalimatmu
tak terurai seperti gemulung ombak tak habis habis
sebelum semua binasa ditelan massa
lalu kunci pintu dan jendela
agar rindu itu pulang ke tubuh jiwa







